Catatan BPS Depok: Semakin Tinggi Pendidikan Semakin Besar Peluang Kerja

oleh -2016 Dilihat

Diskusi Depok Badan Pusat Statistik Kota Depok (BPS) mencatat hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2024 menunjukkan adanya korelasi kuat antara jenjang pendidikan dan peluang seseorang memperoleh pekerjaan. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditempuh, semakin besar pula kemungkinan individu untuk berpartisipasi dalam pasar kerja.

Berdasarkan data BPS, tingkat partisipasi angkatan kerja lulusan Diploma (DI/II/III) mencapai 79,55 persen. Sementara itu, tingkat partisipasi angkatan kerja tertinggi justru berasal dari lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang menyentuh angka 88,38 persen. Angka ini menunjukkan bahwa lulusan SMK secara kuantitatif cukup banyak terlibat dalam dunia kerja, baik sebagai pekerja maupun pencari kerja aktif.

Kepala BPS Kota Depok, Agus Marzuki, menjelaskan bahwa pendidikan memegang peranan sangat penting dalam meningkatkan daya saing tenaga kerja, terutama di tengah perubahan lanskap kerja yang kian cepat dan dinamis.

“Pendidikan bukan hanya membuka peluang kerja lebih luas, tetapi juga meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan dunia kerja yang semakin dinamis,” ujarnya kepada berita.depok.go.id, Rabu (15/10/2025).

Agus menambahkan, lulusan perguruan tinggi saat ini menjadi kelompok dengan jumlah terbanyak dalam angkatan kerja, baik mereka yang sudah bekerja maupun yang sedang aktif mencari pekerjaan. Hal ini mencerminkan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin besar pula peluangnya untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi formal.

Namun, temuan menarik juga muncul dari hasil survei tersebut. Meskipun lulusan SMK memiliki tingkat partisipasi angkatan kerja tertinggi, Tingkat Kesiapan Kerja (TKK) mereka justru tercatat paling rendah dibandingkan lulusan dari jenjang pendidikan lain.

“Lulusan SMK masih menghadapi tantangan karena keterampilan yang dimiliki belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan dan kebutuhan pasar kerja,” jelas Agus.

Ia menilai bahwa kondisi ini mencerminkan adanya kesenjangan antara keterampilan lulusan dengan kebutuhan industri. Banyak lulusan SMK yang secara teknis memiliki keahlian dasar, namun belum sepenuhnya siap untuk langsung masuk ke dunia kerja profesional tanpa pelatihan lanjutan.

“Ini menjadi catatan penting bagi semua pemangku kepentingan, baik pemerintah, lembaga pendidikan, maupun dunia usaha dan industri. Saatnya kita dorong sistem pendidikan dan pelatihan yang lebih selaras dengan kebutuhan pasar kerja, agar generasi muda siap bersaing di dunia kerja yang semakin kompetitif,” ujarnya.

BPS Kota Depok juga mendorong penguatan kolaborasi antara sekolah kejuruan dan sektor industri untuk memperluas kesempatan magang dan pelatihan berbasis kebutuhan lapangan kerja. Selain itu, peningkatan kualitas kurikulum vokasi dan pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran menjadi kunci untuk mencetak sumber daya manusia yang adaptif dan kompeten.

Agus menekankan bahwa investasi pada pendidikan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan dunia industri sebagai pengguna tenaga kerja. Dengan sinergi yang kuat, diharapkan lulusan SMK maupun perguruan tinggi dapat memiliki kompetensi yang sesuai dan siap bersaing secara global.

“Kita perlu memastikan bahwa pendidikan benar-benar menjadi jembatan yang kokoh menuju pekerjaan yang layak, produktif, dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.